Berita Terkini

Pemeriksaan Dini Kesehatan Mata Pegawai KPU

Jakarta,kpu.go.id - Mata merupakan salah satu panca indra penting bagi tubuh manusia, untuk itu memperhatikan kesehatan mata merupakan salah satu keharusan tak terkecuali bagi pegawai-pegawai di lingkungan Komisi Pemilihan Umum (KPU).Melalui kerjasama yang dilakukan antar Sekertariat Jenderal KPU dengan VIO Optical Clinic, Hari ini, Senin (23/4/2018) kegiatan pemeriksaan dini kesehatan mata gratis pun dapat terselenggara.Project Manager VIO Optical Clinic, Jackson Napitupulu menjelasakan dalam kegiatan tersebut terdapat beberapa jenis pemeriksaan, mulai dari pemeriksaan buta warna, retina, kornea, screening katarak, serta lapang pandang"Kegiatan ini kita tujukan untuk memeriksa sejak dini kondisi kesehatan mata bagi pegawai-pegawai di lingkungan KPU," kata Jackson di Ruang Sidang Utama, Lantai 2 Gedung KPU, Jakarta, Senin (23/4/2018).Berdasarkan pantauan, kegiatan yang berlangsung selama tiga hari itu mendapat respon positif dari pegawai-pegawai KPU, hal itu terlihat dari antusiasme pegawai yang antre memeriksakan matanya. Selain pemeriksaan mata gratis, VIO juga menyediakan berbagai jenis kacamata yang dapat dibeli langsung. (hupmas kpu/bili/Foto Ieam/ed diR)

Hasyim Minta Hindari Prasangka dalam Sosialisasi Pemilu 2019

Jakarta, kpu.go.id – Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI) meminta jajarannya ditingkat provinsi dan kabupaten/kota untuk lebih berhati-hati serta menghindari prasangka dan keberatan saat melaksanakan tahapan Pemilu 2019 di daerahnya masing-masing.Pernyataan ini menanggapi adanya keberatan sejumlah pihak atas kegiatan Pagelaran Seni Budaya Menyongsong Penyelenggaraan Pemilu 2019 di Provinsi Jambi Sabtu (21/4) yang diduga disisipi oleh teriakan atau ungkapan yang memicu keberatan dari pihak lain. “Kegiatan ini kan launching dan sosialisasi Pemilu 2019, jangan sampai kegiatan yang strategis ini berubah menjadi kontraproduktif. Semua kegiatan yang melibatkan partai politik (parpol) harus ada pembicaraan di awal, sehingga tidak ada prasangka dan komplain.Apalagi di media sosial dan bisa berbuntut panjang,” jelas Hasyim saat berbincang dengan sejumlah media di Media Centre KPU RI, Senin (23/4/2018).Hasyim mengaku telah meminta klarifikasi dari KPU Provinsi Jambi terkait kejadian tersebut. Berdasarkan keterangan yang diterima, kegiatan telah sesuai dengan kesepakatan, bahwa masing-masing parpol diberikan kesempatan tampil dipanggung dengan materi yang telah disiapkan oleh masing-masing parpol. Institusinya menurut dia juga telah minta KPU Provinsi Jambi untuk memberikan klarifikasi ke publik menjelaskan situasi yang sebenarnya terjadi.“Dalam pandangan kami, pembicaraan dengan parpol di awal itu seharusnya ada materi yang pantas dan tidak pantas, boleh dan tidak boleh dilakukan. Pagelaran ini kan kegiatan KPU untuk sosialisasi Pemilu 2019, tujuannya agar pesan penyelenggaraan Pemilu 2019 bisa tersampaikan,” tambah Hasyim. (hupmas kpu/Arf/Foto Bil/ed diR)

Cerita Pemilu, Ajak Masyarakat Aktif Memilih

Jakarta, kpu.go.id - Pagelaran Seni Budaya Menyongsong Pemilu 2019 sukses menarik perhatian ratusan ribu masyarakat yang memadati Lapangan Timur Monumen Nasional (Monas) Jakarta. Dalam pesannya, para pelakon yang berasal dari komisioner, kepala biro serta artis dan komedian memberikan penyadaran kepada. masyarakat untuk aktif menjadi pemilih. Keterlibatan masyarakat dapat diawali dengan mengecek hak pilih dan menyalurkannya di bilik suara pada hari pemilihan. Adapun alur cerita dari Pagelaran Seni Budaya bertajuk "Cerita Pemilu" diawali dari paparan pemandu kisah yang diperankan oleh komedian Parto Patrio. Pemilik nama Eddy Soepono mengisahkan tentang percakapan tiga orang warga (Komisioner KPU Hasyim Asy'ari sebagai loper koran, komedian Adul sebagai anak kecil serta Deni Cagur sebagai warga), tentang kehidupan sehari-hari yang juga diselingi dengan obrolan mengenai dunia kepemiluan. Lalu muncul sosok tiga preman yang diperankan Azis Gagap, Komisioner Ilham Saputra serta Wahyu Setiawan yang mengganggu namun dua nama terakhir sadar mengenai haknya sebagai pemilu. Dicerita selanjutnya juga muncul Nunung, ibu dari Adul yang tidak terima dengan perlakuan preman terhadap anaknya. Juga datang sosok tokoh masyarakat yang diperankan oleh Komisioner Pramono Ubaid Tanthowi yang selain menengahi juga menyadarkan tentang pentingnya ikut serta dalam pemilu. Pesan ini kemudian disampaikan warga lain, Kepala Biro Teknis dan Hupmas Nur Syarifah yang mengabarkan tentang kehadiran bersama Lurah (Sekjen KPU Arif Rahman Hakim) serta Ketua KPU Arief Budiman ke kampung mereka tinggal. Kedatangan mereka ini juga didampingi Ketua RT (Andhika Pratama),  Sekretaris (Evi Novida Ginting) serta hansip (Viryan). "Ini pak lurah mau datang, Ketua KPU mau sosialisasi," kata Nur Syarifah. Pada sesi ini, terjadi dialog yang cukup intens antara warga dengan Arief selaku Ketua KPU. Pembahasan mulai dari pengakuan Ketua RT yang menyebut tingkat partisipasi dikampungnya rendah, yang direspon oleh Arief dengan menyadarkan masyarakat tentang tujuan dari pemilu memilih pemimpin terbaik untuk bangsa Indonesia lima tahun kedepan. Dalam obrolan juga muncul pertanyaan tentang siapa saja kategori warga yang berhak ikut dalam pemilu dan terdata didalam DPT, juga sikap masyarakat ketika dihadapkan pada situasi politik uang dan SARA. Dibagian akhir dari obrolan ini muncul pertanyaan mengenai potensi masyarakat bisa ikut serta terlibat dalam pemilu namun sebagai penyelenggara. Dalam jawabannya Arief kemudian menjelaskan bahwa setiap orang bisa menjadi penyelenggara pemilu baik sebagai Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK), Panitia Pemungutan Suara (PPS) serta Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS). "Semua masyarakat berhak menjadi petugas pemilu. Kalau di Tempat Pemungutan Suara (TPS) namanya KPPS," tutur Arief. (hupmas kpu/dianR/Foto dosen/ed diR)

Masyarakat Bagian Penting Pemilu

Jakarta, kpu.go.id - Hitung Mundur satu tahun menuju Pemilu 2019 resmi dimulai Sabtu (21/4/2018) malam. Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman memukul gong tanda dimulainya hitung mundur ditemani jajaran Anggota KPU, Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Abhan, Ketua DPD Oesman Sapta Odang. Dalam sambutannya Arief mengatakan kegiatan hitung mundur yang disisipkan dalam kegiatan Pagelaran Seni Budaya merupakan bagian dari sosialisasi yang dilakukan KPU. Dia menegaskan bahwa keterlibatan masyarakat dalam setiap kegiatan dan tahapan kepemiluan adalah sebuah kebutuhan. "Masyarakat bagian penting dari pemilu. Kehadiran bapak, ibu adalah sesuatu yang dibutuhkan," ujar Arief. Dan keterlibatan yang paling nyata menurut Arief adalah ketika masyarakat ikut serta dalam proses pemilu. Dia mengajak masyarakat untuk aktif melihat hak pilihnya dan segera melapor apabila belum terdaftar. "Jadi pemilih sangat mudah, ketika yang bersangkutan sudah berusia 17 tahun atau sudah menikah dan bukan TNI/Polri," kata Arief. Arief melanjutkan, saat ini KPU menyediakan layanan online kepada masyarakat yang membutuhkan informasi tentang kepemiluan melalui kpu.go.id atau melalui media sosial facebook maupun instagram. "Itu bisa dicek, jadi tidak ada alasan anda tidak terlibat," tutur Arief. Lebih jauh Arief mengapresiasi kehadiran masyarakat meramaikan acara sosialisasi di Monas. Semangat yang sama diharapkan bisa terus terjaga ketika hari pemungutan suara 17 April 2019. "Ini luar biasa, datang tanpa dibayar. Semangat ini harus dijaga sampai hari pemungutan suara kalau anda ingin mendapatkan pemimpin yang baik bagi negara ini," tutup Arief. (hupmas kpu/dianR/Foto dosen/ed diR)

Juara Maskot dan Jingle Pemilu 2019 Diganjar Hadiah Puluhan Juta

Jakarta, kpu.go.id - Malam Pagelaran Seni Budaya Menyongsong Pemilu 2019 di Monumen Nasional (Monas) Sabtu (21/4/2018) sekaligus mengumumkan pemenang sayembara lomba maskot dan jingle. Terpilih dari 228 pengirim jingle, L Agus Wahyudi M sebagai pemenang, sementara pada lomba maskot terpilih David Wijaya sebagai pemenang menyisihkan 249 karya peserta lainnya.  Penyerahan hadiah diserahkan langsung oleh Ketua KPU Arief Budiman serta Anggota KPU Wahyu Setiawan. Untuk pemenang lomba jingle mendapat Rp30 juta sementara pemenang maskot memperoleh hadiah Rp20 juta. Sebagai informasi, pendaftaran dan penyerahan karya lomba jingle maupun maskot sendiri telah dilakukan 22 Januari sampai dengan 28 Februari. Adapun pengumuman pemenang dilakukan 16 Maret 2018. (hupmas kpu/dianR/Foto dosen/ed diR)

Maskot dan Jingle Pemilu 2019

Jakarta, kpu.go.id - Komisi Pemilihan Umum (KPU) meluncurkan Maskot dan Jingle Pemilu 2019, Sabtu malam (21/4/2018) di Monumen Nasional (Monas) Jakarta. Maskot SANG SURA, karya David Wijaya. SANG SURA ini mempunyai akronim Sang Surat Suara, sehingga karakternya berbentuk surat suara berikut paku pencoblosnya. SANG SURA ini mempunyai kesan tegas dan ramah. Tegas dan kuat diwakili oleh garis-garis atau stroke yang tebal, kemudian ramah diwakili oleh ekspresi yang optimis dan penuh semangat.   Jingle Pemilu 2019 dengan judul PEMILIH BERDAULAT NEGARA INDONESIA KUAT yang diciptakan oleh L. Agus Wahyudi M. Jingle tersebut kemudian diaransemen ulang oleh Eros (Sheila On 7) dan dinyanyikan oleh Kikan (eks vokalis Cokelat). Lirik jingle ini juga menunjukkan semangat dan optimisme pada suksesnya penyelenggaraan Pemilu 2019. (red)