Berita Terkini

Situng Pilkada Harus Bebas dari Persoalan

Tangerang, kpu.go.id – Komisi Pemilihan Umum (KPU) menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Sistem Informasi Penghitungan Suara (Situng) pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2018, di Serpong Tangerang Banten, Kamis (26/4/2018). Bimtek yang diselenggarakan selama enam hari dan terbagi menjadi tiga gelombang ini diikuti oleh komisioner KPU provinsi dan KPU kabupaten/kota divisi teknis dan operator Situng di masing-masing satuan kerja (satker). Pada gelombang I tanggal 26-27 April 2018 diikuti 268 orang, gelombang II tanggal 28-29 April 2018 diikuti 276 orang, dan gelombang III diikuti oleh 280 orang. Menurut Komisioner KPU RI Ilham Saputra, kegiatan bimtek ini secara substansi untuk membahas, mempelajari dan mempraktekkan Situng Pilkada Serentak 2018. Situng sendiri terdapat beberapa jenis, yaitu situng pindai, rekap, aggregator, web, dan entry yang digunakan pada saat hari pemungutan suara saat proses rekapitulasinya. “Pilkada 2018 ini pilkada ketiga setelah UU disahkan, untuk itu pelaksanaan Pilkada 2015 dan 2017 harus bisa menjadi evaluasi kita semua atas semua proses yang dilewati. Harapannya, pada Pilkada 2018 nanti tidak ada persoalan lagi, tidak ada eror lagi, terutama terkait Situng ini,” tutur Ilham saat membuka kegiatan Bimtek tersebut. Ilham mengingatkan kepada seluruh peserta bimtek menghindari kesalahan yang berulang serta selalu membaca buku manual Situng yang telah disediakan agar lebih mudah memahami. "Jangan seperti keledai yang terperosok ke lubang yang sama. Apabila ada permasalahan, silakan berkoordinasi dengan KPU provinsi. Meskipun dalam UU itu KPU Kabupaten/Kota dipilih oleh KPU RI, tetapi peran provinsi tetap hubungan vertical dari kabupaten/kota. Baru kemudian KPU Provinsi berkoordinasi dengan KPU RI,” ujar Ilham yang juga membidangi divisi Teknis di KPU RI. Sementara itu, Kepala Biro Teknis dan Hupmas Sekretariat Jenderal (Setjen) KPU RI Nur Syarifah menyampaikan tujuan kegiatan bimtek ini agar semua peserta mempunyai pemahaman dan ketrampilan yang sama dalam penggunaan Situng, serta mendeteksi dari dini apabila ada kendala-kendala untuk bisa dikoordinasikan dengan tim dari KPU RI. “Kita inventarisir persoalan, seperti persoalan teknis, jaringan, dan pemahaman terhadap manual system aplikasi. Apabila masih ditemukan kekurangan, kita masih punya waktu untuk menyempurnakan kembali system kita hingga menjelang hari pemungutan suara. Ini kontribusi kita semua bahwa dengan adanya Situng ini kita dapat menyajikan data ke publik secara akurat dan dalam waktu singkat,” jelas Nur Syarifah yang akrab dipanggil Inung. Inung juga berharap para operator Situng bisa memahami tahap demi tahap proses ini, apabila ditemukan kendala segera dikomunikasikan. Kemudian Komisioner KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota yang turut hadir, Inung berharap bimtek ini bisa menjadi alat kontrol dengan memahami mekanisme Situng meskipun tidak mengoperasikan secara langsung, sehingga apabila ada persoalan bisa langsung mengetahui tahap mana persoalan itu bisa diselesaikan dan dikomunikasikan. (Hupmas/Arf/Foto Dosen/Ieam/ed diR)

Dorong Pengelolaan Logistik dan Gudang yang Rapi

Jakarta, kpu.go.id - Sekretaris Jenderal Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arif Rahman Hakim mendorong jajarannya di provinsi dan kabupaten/kota untuk lebih rapi dalam mengelola logistik dan gudang. Pengelolaan yang rapi menurut dia, memudahkan para penyelenggara dalam memelihara dan menggunakan logistik pemilu maupun pemilihan. "Kalau pengaturannya rapi ketika kita mencari mudah, menghitung jumlahnya juga dapat diketahui," ujar Arif saat membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) dan Sosialisasi Pemeliharaan dan Inventarisasi Logistik Terkait Tata Kelola Manajemen Gudang Logistik Pemilu dan Pemilihan kembali di Hotel Harris Vertue Jakarta, Rabu (25/4/2018) malam.Menurut Arif sepatutnya pengelolaan logistik dan gudang KPU bisa dilakukan dengan lebih baik. Dia membandingkan pengelolaan gudang milik industri elektronik atau otomotif yang bisa jauh lebih rapi dan baik jika dibandingkan dengan pengelolaan gudang milik KPU.  "Meskipun komponen ribuan tapi pengaturannya rapi. Sementara KPU (barang di gudang) jenisnya tidak beragam," kata Arif. Arif berharap melalui bimtek ini muncul standarisasi dalam pengelolaan logistik dan gudang milik KPU. Untuk itu peserta bimtek menurut dia perlu untuk menyampaikan masukan selama proses bimtek dilakukan. "Dan saya yakin semua paham dan pengalaman saat mengelola logistik pilkada maupun pemilu. Ini bisa dijadikan bahan, tujuannya menyempurnakan materi kita, petunjuk teknis agar sempurna," tambah Arif.Untuk diketahui bimtek logistik yang digelar 25-27 April 2018 merupakan gelombang II dimana para peserta merupakan para komisioner serta kepala bagian yang membidangi divisi logistik (tingkat provinsi) serta kepala sub bagian (tingkat kab/kota) yang berjumlah sebanyak 360 orang dan mereka berasal dari KPU/KIP di 12 provinsi dibagian barat Indonesia antara lain Lampung, Bengkulu, Banten, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, Jambi, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Riau, Sumatera Utara serta Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). "Pengelolaan gudang 2014 banyak diapresiasi. Harapan kami 2019 tentu saja kita bisa lebih baik lagi, kalaupun kalaupun terjadi kesalahan dibawah 0,03%," pungkas Arif. Sementara itu Kepala bagian (Kabag) Logistik KPU, Asep Suhlan berharap agar peserta bimtek memanfaatkan kegiatan yang telah dirancang oleh Biro Logistik dengan sebaik-baiknya. Dia mengatakan bahwa persoalan pengelolaan gudang memang kerap luput dari perhatian jika dibandingkan dengan pengadaan dan pendistribusian. Meski demikian dia berharap kondisi ini tidak berulang agar pengelolaan gudang juga bisa menjadi prioritas jajaran ditiap daerah. "Mudah-mudahan fokus pada kegiatan yang akan diisi pada bimtek ini yang akan diisi narasumber lintas biro dan inspektorat ini," tambah Asep. (hupmas kpu/dianR/foto Qk/ed diR) 

Gelar Imunisasi Difteri II, Tingkatkan Kesehatan Pegawai KPU

Jakarta, kpu.go.id - Setelah sukses menggelar imunisasi difteri tahap I (2-5 April 2018) silam, Klinik Pratama Komisi Pemilihan Umum (KPU) berencana menggelar imunisasi difteri tahap II, 7-9 Mei 2018. Pelaksanaan imunisasi tahap II ini sejalan dengan periodeisasi imunisasi difteri sebanyak tiga kali, dimana pasien diminta untuk mengulang imunisasi 30 hari pasca imunisasi tahap I  dan mengulanginya kembali enam bulan untuk tahap III.“Tetapi ini masih menunggu kepastian ya, karena perlu koordinasi lintas biro dan lintas bagian yang ada di KPU,” ujar dokter di Klinik Pratama KPU dr Maya Setyawati MKK, Sp.Ok dalam rapat evaluasi pelaksanaan imunisasi difteri tahap I, di Kantor KPU Selasa (24/4/2018).Untuk memaksimalkan keikutsertaan pegawai dilingkungan KPU terhadap imunisasi tahap II ini, pihak Klinik Pratama berencana menggelar sosialisasi melalui kegiatan coffee morning saat apel pagi di Senin 30 April 2018. Terlebih dari 676 pegawai yang ada dilingkungan KPU, baru 347  (51 persen) yang melaksanakan program pemerintah ini. “Masih perlu ditingkatkan upaya mengedukasi tentang pentingnya pencegahan penyakit, khususnya difteri melalui imunisasi,” ungkap Maya.Kedepan Maya menyarankan agar ada gerakan yang masif untuk meningkatkan kesadaran dan penyuluhan tentang manfaat imunisasi dalam pencegahan penyakit. Disamping itu, dia juga menyinggung perlunya waktu yang cukup untuk penyebarluasan informasi melalui publikasi kesehatan ini, sehingga animo dan kesadaran para pegawai dapat meningkat. (hupmas kpu/wawan/ed diR)

Samakan Pandangan, Narasumber Bimtek Logistik Lintas Biro KPU

Jakarta, kpu.go.id – Memperkaya pengetahuan peserta, Bimbingan Teknis (Bimtek) Biro Logistik Komisi Pemilihan Umum (KPU) dengan tema “Pemeliharaan dan Inventarisasi Logistik Terkait Tata Kelola Manajemen Gudang Logistik Pemilu” sengaja menghadirkan narasumber dari biro-biro terkait di Jakarta, Selasa (24/4/2018).Biro-biro yang tersebut antar lain, Perencanaan dan Data, Keuangan, Umum, serta Teknis dan Masyarakat (Tekmas). Keterlibatan lintas biro diharapkan dapat menyamakan pandangan sekaligus memberikan informasi yang lebih luas kepada peserta gelombang I yang terdiri dari anggota dan sekertariat KPU daerah di 13 Provinsi dan 117 kabupaten/kota di wilayah timur.Adapun, sharing informasi dari lintas biro terbagi dalam lima sesi, pada sesi pertama diisi oleh narasumber dari Kepala Bagian (Kabag) Pengelola Keuangan, M Aminsyah. Dalam paparannya, dia menjelaskan sejumlah materi salah satunya tentang pengelolaan dana hibah serta pertanggungjawabannya demi sukses administrasi.Pada sesi berikutnya, Kasubbag Program dan Anggaran Wilayah II, Endah Purnamawati menyampaikan materi terkait Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah (RKP). Materi ini dianggap penting mengingat peran KPU daerah dalam menghitung dan melaporkan biaya pemilu di lapangan akan berpengaruh pada RKP.Sesi ketiga, Kabag Rumah Tangga, Achmad Syaifudin Rahadhian dan Kasubbag Inventaris, Syaiful Bahri yang menyampaikan materi tentang penatausahaan Barang Milik Negara (BMN) berupa eks pilkada dan pencatatan barang logistik.Sesi berikutnya dari Biro Tekmas, Kabag Teknis Pemilu, Sahruni Hasna Ramadhan yang memberikan materi kepada peserta tentang kelengkapan kotak suara, rencana logistik di Tempat Pemungutan Suara (TPS) dan teknis penghitungan suara. Kata dia, antara bagian teknis dan logistik memiliki keterkaitan yang erat sehingga jangan sampai proses inventarisasi logistik tidak sesuai dengan teknis pemilu itu sendiri.Dan sesi terakhir, dilakukan diskusi panel biro logistik yang membahas antara lain soal penganggaran, pengadaan, distribusi dan penerimaan-penghapusan logistik pemilu. (hupmas kpu/bil/foto dosen/ed diR)

Hasyim Minta Peserta Bimtek Logistik Berpikir Strategis Hadapi Pemilu 2019

Jakarta, kpu.go.id - Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI) menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Sosialisasi Pemeliharaan dan Inventarisasi Logistik Terkait Tata Kelola Manajemen Gudang Logistik Pemilu/Pemilihan Gelombang I di Hotel Harris Vertu, Jakarta, Senin (23/4/2018).Peserta yang hadir terdiri dari Anggota dan Pejabat Sekertariat KPU bidang logistik dari 13 Provinsi dan 117 Kabupaten-Kota wilayah timur serta KIP Aceh.Dalam sambutannya, Komisioner KPU, Hasyim Asy’ari menekankan pentingnya pola pikir strategis dalam menghadapi Pemilu Serentak 2019. Apalagi Pilpres dan Pileg yang akan terselenggara pada hari yang sama menuntut biro logistik menyiapkan desain dan pengelolaan logistik yang rumit.“Saya ajak teman-teman mari kita berpikir strategis, berpikir strategis itu beda dengan berpikir spontan. Kalau strategis itu antisipatif, kita sudah bayangkan situasi di depan apa. Sehingga kita tahu apa yang kita hadapi. Tapi kalau cara berpikirnya spontan ya kita selalu tergagap-gagap karena kita tidak punya bayangan,” tegas Hasyim.Selain itu, Dosen Fakultas Hukum Universitas Diponegoro itu berharap kepada Biro Logistik untuk dapat menyiapkan Petunjuk Pelaksana (Juklak), Petunjuk Teknis (Juknis) dan Standar Oprasional Prosedur (SOP) untuk menentukan target yang harus dijaga.“Karena dengan SOP sama seperti pegangan kita quality control karena kan ada sub-subnya kalau satu macet pasti tidak bekerja, kalau ngitungnya belom tepat enggak bisa dipenuhin,” pungkasnya. (hupmas kpu/bili/Foto dosen/ed diR)

KPU Perlu Tim Keamanan Sistem dan Jaringan Informasi

Jakarta, kpu.go,id – Biro Sumber Daya Manusia (SDM) Sekretariat Jenderal (Setjen) Komisi Pemilihan Umum (KPU) menggelar kegiatan berbagi ilmu (knowladge sharing) terkait “Pelatihan Network Security” di Ruang Rapat Edelweiss, Gedung KPU, Jakarta, Senin (23/4/2018).Dalam kegiatan ini, hadir sebagai pemapar materi Kepala Bagian Pengolahan Data dan Informasi Bastian serta delapan orang pegawai KPU dibagian Data dan Informasi yang telah mengkuti pelatihan network security di Universitas Bina Nusantara (Binus) Jakarta 10-14 Juli 2017 silam.Dalam kegiatan ini Bastian menceritakan pengalamannya selama mengikuti pelatihan, mulai pengenalan sistem hingga keamanan jaringan informasi. Pelatihan ini menurut dia sangat penting mengingat KPU merupakan lembaga pemerintah yang memiliki informasi berharga dan menjadi incaran para hacker untuk mengganggu jaringan.Dalam kegiatan ini juga disampaikan juga materi lain yang didapat selama pelatihan, seperti materi tentang deteksi dini akan adanya kegiatan hacking, materi tentang cara pemograman yang dapat dikendalikan dengan aman, mengatur keamanan dari sistem jaringanserta mempelajari kejadian-kejadian yang berkaitan dengan teknologi informasi.Bastian melanjutkan, bahwa prinsip utama dalam keamanan sistem informasi adalah menjaga integritas ketersediaan dan kerahasiaan sumber daya informasi. Dan KPU menurut dia perlu membuat suatu tim yang bertugas menjaga hal tersebut agar tidak dapat disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggungjawab. “Dan bisa dipastikan user (pengguna) yang memakai aplikasi harus dipastikan benar-benar yang berhak yaitu user yang bersifat unik, akuntabel dan dapat dipertanggungjawabkan,” tutup Bastian. (hupmas kpu/ieam/foto ieam/ed diR)